Kebiasaan Buruk Media Online Saat ini tentang Pemberitaan

Kebiasaan Buruk Media Online Saat ini tentang Pemberitaan - Media Online (situs berita, portal berita) kian menyiksa pembacanya. Bukan saja dengan judul-judul umpan klik (clickbait) dan lebay, tapi juga dengan dibaginya naskah berita menjadi dua-tiga bahkan empat-lima halaman yang membuat pembaca harus klik berkali-kali untuk memuntaskan bacaan.

Judul umpan klik (clickbait headline) alias jebakan klik adalah judul-judul berita atau tulisan yang menyembunyikan substansi atau info terpenting di bagian judul. Maksudnya agar link judul itu diklik sehingga pembaca membuka atau mengunjungi halaman situs berita. Dengan judul umpan klik, para pembaca judul (headline readers) tidak mendapatkan informasi apa pun, kecuali mengeklik link judul berita tersebut.
Kebiasaan Buruk Media Online Saat ini tentang Pemberitaan
Kebiasaan Buruk Media Online Saat Ini
Baca juga: Cara Wawancara Jurnalistik Ampuh Menggali Informasi
Dengan demikian, kebanyakan wartawan dan editor situs-situs berita (media online) kini berorentasi klik, pageviews, atau trafik website. Orientasi mereka bukan lagi melayani pembaca yang membutuhkan informasi, tapi melayani kepentingan ekonomis medianya yaitu trafik tinggi dengan itu pendapatan adsense tinggi.

“Simply economic”, tulis BBC ketika mengupas jurnalistik online saat ini yang identik dengan clickbait (umpan klik). Keterampilan menulis judul berita tidak lagi memerlukan skills jurnalisme, karena cukup menggunakan kata “inilah”, “ini”, “ini komentar“, “ini jawaban“, “begini reaksi”, “Wow“, “Astaga”, “Miris”, “Mengerikan”, “Menakjubkan”, atau bertanya kepada pembaca: “Louis van Gaal Tidak Jadi Dipecat MU?”

Pembuatan Judul Berita yang Tidak Baik atau Click Bait

Selain judul berita umpan klik nan alay bin lebay dan merupakan versi baru jurnalisme kuning (yellow journalism) tersebut, media online juga menyiksa pembaca dengan membagi berita yang dinilai menarik menjadi beberapa bagian atau beberapa halaman (multiple page).

Setelah 4-5 alinea, kelanjutan berita disajikan di halaman 2, 3, 4 dan seterusnya. Tujuan penyajian berita dengan multiple page ini sama dengan judul umpan klik: trafik, pageviews. Mungkin, dari lubuh hati yang paling dalam, wartawan media online tidak suka dengan cara kerja mereka yang menyiksa pembaca tersebut.

Namun, mau gimana lagi, hanya dengan cara itu media mereka bisa bertahan –demi trafik, demi pendapatan, demi adsense earning! Konsekuensinya, reputasi media penganut jurnalisme umpan klik rendah. Wartawannya dinilai tidak profesional, tidak memahami jurnalistik, atau setidaknya tidak lagi bekerja sebagain jurnalis, melainkan sebagai internet marketer atau “sales promosi berita”.

Judul yang dibuat para blogger yang meniru jurnalisme umpan klik lebih alay lagi. Misalnya mengemis, “Mari Bacanya! Tolong Share!!! Wajib Baca!!! Ternyata Selama Ini Dibohongi, Inilah Minuman….!!!”

Dalam sebuah diskusi tentang trend media online di Jurusan Komunikasi UIN Bandung, membahas fenomena atau “wabah” jurnalisme umpan klik dibiarkan bertahan dan berkembang, maka wartawan tidak perlu lagi belajar jurnalistik, tidak diperlukan lagi sekolah atau jurusan jurnalistik.

Pasalnya, dengan orientasi klik, menganut slogan “Click is The King”, maka menulis berita tidak memerlukan skills dan kaidah jurnalisme. Faktanya, banyak media online atau wartawan online mengabaikan kaidah baku jurnalisme.

Di Indonesia, tampaknya belum ada literasi media soal jurnalisme umpan klik. Di Amerika atau Inggris, sudah banyak pakar yang membahas bahaya jurnalisme umpan klik. Silakan cari di google kajian-kajian atau opini dalam format keyword di bawah ini:
  • A History of Clickbait
  • Ideas Behind Clickbait Headline
  • Clickbait Headlines Manipulate You
  • Clickbait Headline is Bad for Website
  • Clickbait Journalism May be Not be the Answer
  • Clickbait: The changing face of online journalism
Hal di atas tersebut adalah posting dengan jurnalisme umpan klik itu buruk, tidak baik, jelek, merusak reputasi wartawan dan medianya, dan bukan solusi.

Jurnalisme umpan klik memang menaikkan jumlah pengunjung (visitor), namun tidak menciptakan customer. Pembaca akan mengabaikan media penganut jurnalisme umpan klik karena merasa dianiaya, ditipu, dan muak.

Pembaca yang cerdas, akan mengabaikan judul umpan klik, seperti dua ikan yang tidak mau termakan umpan dalam gambar ilustrasi di atas. Salam jurnalistik.

Sekian artikel Universitas Jurnalisme tentang Kebiasaan Buruk Media Online Saat ini tentang Pemberitaan. Semoga bermanfaat.

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Kebiasaan Buruk Media Online Saat ini tentang Pemberitaan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel