Sekilas Tentang Jurnalisme Militan: Pers atau Media Bawah Tanah (Underground Press)

Sekilas Tentang Jurnalisme Militan: Pers atau Media Bawah Tanah (Underground Press) - Setiap jurnalis selalu punya informasi rahasia (off the record) yang tidak dipublikasikan di medianya.

Selayang Pandang Jurnalis Underground Press

Wartawan selalu punya informasi penting yang berkaitan dengan informasi yang diliputnya maupun di luar itu, namun sering tidak bisa ditulis di medianya, yang disebabkan karena faktor off the record tadi maupun (utamanya) karena kebijakan redaksi medianya (editorial policy).

Sehingga wartawan atau jurnalis hanya menyimpannya secara pribadi atau kelompoknya saja karena menyimpan informasi itu untuk dirinya sendiri dan kalangan yang menyangkut informasi tersebut.
Sekilas Tentang Jurnalisme Militan: Pers atau Media Bawah Tanah (Underground Press)
Apa itu underground press?
Baca lainnya: Pengertian Jurnalistik Entertainment
Selain itu lain sisi pembaca selalu ingin tahu banyak dan mendalam tentang sebuah isu aktual. Mereka cenderung  merasa kurang hanya mengetahui sebuah informasi dari yang disajikan oleh media saja, apalagi jika mereka tahu media tersebut dimiliki oleh kelompok kepentingan politik tertentu.

Bagaimana menyiasatinya? Tak lain, jurnalis atau wartawan bisa membuat blog atau website pribadi atau bahkan yang tren thread di media sosial lainnya, dan di sana jurnalis atau wartawan bisa menumpahkan semua informasi yang  dimilikinya di sana, tentu dengan tetap mempertimbangkan etika dan dampaknya.

Demikian pula, pembaca bisa membuat komunitas di platform media online atau bahkan menerbitkan media alternatif dan mengembangkan jurnalisme warga (citizen journalism).

Jurnalisme Militan atau Dikenal Pers Bawah Tanah

Banyak bermunculan blog atau media semacam itu saat ini, sebagai alternatif dari media yang ada daripada sekarang ini, jadilah sebuah Jurnalisme Militan, yaitu “pers bawah tanah” (underground press) sebagai pilihan untuk mempublikasikan berita atau gagasan yang tidak dipublikasikan media konvensional.

Istilah “jurnalisme militan” dan “pers bawah tanah” dikemukakan William L. Rivers dkk. dalam buku Media Massa & Masyarakat Modern (Prenada Media, 2003:10). Rivers dkk memiliki pandangan dan menilai jurnalisme militan sebagai tantangan bagi dunia jurnalisme konvensional.

Jurnalisme militan muncul di Amerika di akhir 1960-an berupa media-media garis garis keras yang memperjuangkan ideologi tertentu. Jurnalisme militan muncul karena ada yang tidak dapat dipenuhi oleh jurnalisme konvensional.

“Koran bawah tanah ini menampung berbagai gagasan atau pandangan yang tak termuat di koran biasa,” kata Rivers.

“Jadi paling tidak, koran jenis ini menawarkan perspektif baru”.

Jurnalisme militan “alternative to other media”, apalagi media-media mainstream sekarang banyak dimiliki oleh kalangan yang punya ikatan dengan kekuatan politik tertentu atau dapat dikatakan media saat ini dapat distir dengan mudah oleh politik.

Di bawah ini merupakan bahan bacaan lainnya yang bisa dibaca untuk menambah wawasan tentang Underground Press.
Baca selengkapnya: Sejarah dan Geografi Underground Press
Media sekarang ini yang dimiliki oleh kalangan yang “tidak independen” akan bias dalam pemberitaan, setidaknya akan “menyembunyikan” fakta atau informasi yang merugikan citra kekuatan politik tersebut dan melindunginya agar pamor suatu kelompok atau orang tidak jatuh.

Sekian artikel Universitas Jurnalistik tentang Sekilas Tentang Jurnalisme Militan: Pers atau Media Bawah Tanah (Underground Press). Semoga bermanfaat.
Universitas Jurnalistik
Universitas Jurnalistik Media belajar ilmu jurnalistik terlengkap yang berisi kumpulan artikel dan tips jurnalistik terbaru.

Tidak ada komentar untuk "Sekilas Tentang Jurnalisme Militan: Pers atau Media Bawah Tanah (Underground Press)"

Berlangganan via Email