Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengertian Reportase dan Teknik Reportase Bagi Pemula

Pengertian Reportase dan Teknik Reportase Bagi Pemula - Sering kali para penulis pemula dibenturkan dengan cara melaporkan yang kurang tepat bahkan salah dan tidak to the point. Dalam tulisan berikut ini universitasjurnalistik.com akan membagikan sedikit ilmu tentang reportase. Ulasan ini akan merangkum sedikit pengetahuan tentang pengertian reportase dan teknik dalam reportase.

Pengertian Reportase

Reportase artinya pemberitaan atau pelaporan. Dari kata “report” yang artinya “melaporkan” atau “memberitakan”. Mirriam Webster Dictionary mengartikan reportase (reportage) sebagai “the act or process of reporting news” (aksi atau proses pemberitaan) dan “something (as news) that is reported” (sesuatu yang dilaporkan”. Kamus Bahasa Indonesia mengartikan reportase sebagai “pemberitaan”, “pelaporan, dan “laporan kejadian (berdasarkan pengamatan atau sumber tulisan). Dalam konteks jurnalistik, reportase adalah proses pengumpulan data untuk menyusun berita. Reportase bisa dikatakan merupakan proses jurnalistik terpenting karena dari proses inilah terkumpul bahan-bahan atau informasi untuk diberitakan.

Pengertian dan Teknik Reportase Jurnalistik
Teknik Reportase

Baca juga: Panduan Menulis Berita Praktis

Teknik Reportase

Ada tiga hal apa saja itu teknik reportase:

  1. Observasi, yaitu wartawan langsung datang ke lokasi kejadian, mengamati, dan mengumpulkan data/fata kejadian tersebut.
  2. Wawancara, yaitu wartawan bertanya untuk menggali informasi atau keterangan kepada narasumber –pengamat, pelaku, saksi, korban, dan siapa pun yang memiliki informasi.
  3. Riset data/Studi Literatur/Riset Dokumentasi, yaitu wartawan membuka-buka arsip, buku, atau referensi terkait dengan berita yang akan ditulisnya.

Contoh Reportase

Wartawan datang ke lokasi seminar. Di sana ia mengamati jalannya acara, jumlah hadirin, materi pembicaraan, mengambil makalah (jika ada), mengambil foto/memotret (jika tidak ada fotografer), lalu wawancara panitia, narasumber, dan peserta.

Pengumpulan data untuk naskah berita meliputi 5W+1H –What (kejadian/acara apa), Who (siapa yang mengadakan, menghadiri, dan mengisi), When (kapan/waktu), Where (tempat atau lokasi kejadian), Why (tujuan acara, latar belakang), dan How (bagaimana jalannya acara).

Catatan Ringan Tentang Liputan Maupun Reportase

Pewarta sering kecewa karena hasil liputan dan reportasenya atau naskah beritanya tidak bisa dipublikasikan di media tempatnya bekerja, namun hal ini sudah kuno dan selalu ada cara menuju Roma. Sekarang di era internet atau media online, semua tulisan wartawan sejelek apa pun, dapat dimuat, selama tidak bertentangan dengan kebijakan redaksi (editorial policy).

Media online (baca: situs berita, portal berita) sekarang tampak berlomba-lomba mengejar “kuantitas” berita di medianya karena mesin pencari, seperti Google, sangat suka konten segar (fresh content). Namun, bisa saja hasil liputan atau naskah berita wartawan media online tidak bisa dipublikasikan karena substansi beritanya bertentangan dengan kebijakan redaksi, terlalu “kritis”, atau bertentangan dengan “pesan sponsor”.

Jika itu terjadi, wartawan masih bisa mempublikasikan beritanya lewat blog atau situs pribadinya. Dalam Kamus Jurnalistik kini dikenal Stand-Alone Journalism. Istilah ini dikemukakan guru besar jurnalistik Jay Rosen dan Chris Nolan. Stand-Alone Journalism atau “Jurnalis Mandiri” merujuk pada wartawan profesional yang membuat situs web atau media online sendiri.

“A journalist — or a small group of reporters — can work on the web to produce what they want as they find it appropriate. And readers are equally free to read the work of individual journalist as they see fit, on their time, not on schedules set by TV networks or the newspapers.” Not bad. Not bad at all,” tulis Nolan dikutip Poynter.

Seorang wartawan – atau sekelompok kecil wartawan – dapat bekerja di web untuk menghasilkan apa yang mereka inginkan karena mereka merasa sesuai. Dan pembaca sama-sama bebas membaca karya jurnalis individual sesuai keinginan mereka, tepat waktu, bukan pada jadwal yang ditetapkan oleh jaringan TV atau surat kabar. “Tidak buruk. Tidak buruk sama sekali,” katanya.

Jadi, intinya, Stand-Alone Journalim itu adalah wartawan membuat blog atau website pribadi untuk publikasi hasil liputannya yang tidak bisa dimuat di media tempatnya bekerja atau berita yang sama tapi menggunakan angle lain. Jurnalis Onlie di Indonesia tampaknya tidak punya waktu luang untuk membuat blog dan menjadikannya sebagai media Stand-Alone Journalism. Padahal, menjadi stand-alone journalis atau “wartawan mandiri” juga bisa menghasilkan uang atau “penghasilan sampingan” dari Google AdSense atau sponsor.

Sekian artikel Universitas Jurnalistik tentang Pengertian Reportase dan Teknik Reportase Bagi Pemula. Semoga bermanfaat.

Universitas Jurnalistik
Universitas Jurnalistik Media belajar ilmu jurnalistik terlengkap yang berisi kumpulan artikel dan tips jurnalistik terbaru.

Posting Komentar untuk "Pengertian Reportase dan Teknik Reportase Bagi Pemula"

Berlangganan