Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Teori Komunikasi Kelompok (Psikologi Kelompok) Menurut Para Ahli

Pengertian Komunikasi Kelompok (Psikologi Kelompok) Menurut Para Ahli - Dalam media atau jurnalistik, perlu juga memahami keilmuan di bidang lain salah satunya komunikasi dan psikologi. Karena kedua ilmu yang disebutkan tersebut memberikan pengaruh yang baik terhadap keilmuan jurnalistik dan memiliki objek yang tidak jauh berbeda. Untuk kali ini hal yang akan dibahas dalam universitasjurnalistik.com adalah tentang komunikasi kelompok, mari kita pahami bersama apa itu psikologi kelompok dan komunikasi kelompok dan hubungannya dengan jurnalistik (media).

Komunikasi dalam kelompok merupakan bagian dari kegiatan keseharian kita. Sejak kita lahir kita sudah bergabung dengan kelompok primer yang paling dekat, yaitu keluarga. Kemudian seiring dengan perkembangan usia dan kemampuan intelektual kita, kita masuk dan terlibat dalam kelompok-kelompok sekunder seperti sekolah, lembaga, tempat pekerjaan dan kelompok sekunder lainnya sesuai dengan minat dan ketertarikan kita.

Kelompok menentukan cara kita bertutur kata, gaya berpakaian, bekerja, belajar, bahkan hingga keadaan emosi seperti suka dan duka pun hal tersebut di pengaruhi kelompok. kelompok merupakan bagian yang tidak terpisah dengan kehidupan kita, karena melalui kelompok, memungkinakan kita untuk berbagai informasi, menambah pengetahuan, memperteguh atau merubah sikap dan perilaku, mengembangkan kesehatan jiwa, dan meningkatkan kesadaran anda dalam berpikir (secara psikologi).

Teori Komunikasi Kelompok (Psikologi Kelompok) Menurut Para Ahli
Komunikasi Kelompok (Psikologi Kelompok)

Baca juga: Cara Menulis Tulisan Jenis Feature

Michael Burgoon dan Michael Ruffner dalam bukunya Human Communiation, A Revisian of Approaching Speech/Comumunication, memberi batasan komunikasi kelompok sebagai:

“Interaksi tatap muka dari tiga atau lebih individu guna memperoleh maksud atau tujuan yang dikehendaki seperti berbagai informasi, pemeliharaan diri atau pemecahan masalah sehingga semua anggota kelompok dapat menumbuhkan karateristik pribadi anggota lainnya dengan akurat”

Ada empat elemen yang tercakup dalam definisi di atas, yaitu:

Interaksi tatap muka, jumlah partisipan yang terlibat dalam interaksi, maksud atau tujuan yang dikehendaki dan kemampuan anggota untuk dapat menumbuhkan karakteristik pribadi anggota lainnya. Kita mencoba membahaas keempat elemen dari batasan tersebut dengan lebih rinci. Terminologi tatap muka (face-toface) mengandung makna bahwa setiap anggota kelompok harus dapat melihat dan mendengar anggota lainnya dan juga harus dapat mengatur umpan balik secara verbal maupun nonverbal dari setiap anggotanya. Batasan ini tidak berlaku atau meniadakan kumpulan individu yang sedang melihat proses pembangunan gedung/bangunan baru. Dengan demikian, makna tatap muka tersebut berkait erat dengan adanya interaksi di antara semua anggota kelompok. Jumlah partisipan dalam komunikasi kelompok berkisar antara 3 sampai 20 orang. Pertimbangannya, jika jumlah partisipan melebihi 20 orang, kurang memungkinkan berlangsungnya suatu interaksi di mana setiap anggota kelompok mampu melihat dan mendengar anggota lainnya. Dan karenannya kurang tepat untuk dikatakan sebagai komunikasi kelompok.

Maksud atau tujuan yang dikehendaki sebagai elemen ketiga dari definisi di atas, bermakna bahwa maksud atau tujuan tersebut akan memberikan beberapa tipe identitas kelompok. Kalau tujuan kelompok tersebut adalah berbagi informasi, maka komunikasi yang dilakukan dimaksudkan untuk menanamkan pengetahun (to impart knowledge). 

Sementara kelompok yang memiliki tujuan pemeliharaan diri (self-maintenance), biasanya memusatkan perhatiannya pada anggota kelompok atau struktur dari kelompok itu sendiri. Tindak komunikasi yang dihasilkan adalah kepuasan kebutuhan pribadi, kepuasan kebutuhan kolektif/kelompok bahkan kelangsungan hidup dari kelompok itu sendiri. Dan apabila tujuan kelompok adalah upaya pemecahan masalah, maka kelompok tersebut biasanya melibatkan beberapa tipe pembuatan keputusan untuk mengurangi kesulitan-kesulitan yang dihadapi.

Elemen terakhir adalah kemampuan anggota kelompok untuk menumbuhkan karateristik personal anggota lainnya secara akurat. Ini mengandung arti bahwa setiap anggota kelompok secara tidak langsung berhubungan dengan satu sama lain dan maksud/tujuan kelompok telah terdefinisikan dengan jelas, di samping itu identifikasi setiap anggota dengan kelompoknya relatif stabil dan permanen.

Tanda Psikologi dalam Kelompok

Kelompok mempunyai dua tanda psikologi:

  1. Anggota-anggota kelompok merasa terikat dengan kelompok, ada sense of belonging yang tidak dimiliki oleh orang yang bukan anggota.
  2. Nasib anggota-anggota kelompok saling bergantung sehingga hasil setiap orang terkait satu sama lain.

Psikologi Komunikasi dapat digunakan dalam kehidupan kelompok. Hal tersebut bisa kita lihat dalam perilaku manusia sebagai makhuk sosial dalam kelompok tersebut, bagaimana sikap orang itu dengan kelompoknya dan bagaimana suatu kelompok memperlakukan seseorang. Karena, Manusia tidak akan bisa hidup tanpa bantuan orang lain, begitu pula sebaliknya. Hidup manusia tidak akan terlepas dari masalah, karena masalah merupakan bagian dari hidup, oleh karena itu dibutuhkan komunikasi yang efektif sehingga menghasilkan suatu yang manfaat buat semuanya.

Psikologi melihat komunikasi dimulai dengan dikenainya masukan kepada organ-organ pengindraan yang berupa data. Bagi orang yang terlibat dalam komunikasi kelompok, dengan mudah ia menggolongkan dirinya dengan kelompok orang banyak, ia berusaha menjadi bagian dari kelompok orang banyak. Ia berusaha menjadi bagian dari kelompok itu sehingga sering kali ia terbawa oleh kelompok itu. Sebuah kuliah umum, ceramah, atau khotbah dapat digolongkan sebagai komunikasi kelompok, halitu karena khalayaknya bersifat homogen, misalnya mahasiswa,

Kesimpulan Psikologi komunikasi kelompok merupakan bagiandari ilmu komunikasi membicarakan masalah interaksi sosial yang ditinjau dari karakter manusia sebagai makhkuk sosial yang beroreantasi pada nilai yang ada dalam diri manusia seutuhnya. Ruang Lingkup Psikologi komunikasi kelompok menyangkut hal-hal yang pada umumnya mengarah pada perilaku manusia komunikan dengan kelompoknya, penggunaan panca indra manusia dalam rangka menyampaikan pesan dan menyamakan persepsi manusia, menjelaskan seluruh komponen yang ada pada diri manusia sehingga ia mampu berinteraksi dengan sesama dan menghasilkan kesamaan yang ideal dan dimanis. Penggunaan Psikologi dalam komunikasi kelompok terangkum dalam lima indikator antara lain (Pengertian, Kesenangan, Mempengaruhi Sikap, Hubungan Sosial yang Baik, dan Tindakan).

Pengaruh Kelompok dalam Psikologi Kepribadian

Tiga macam pengaruh kelompok dalam psikologi kepribadian:

1) Konformitas

Perubahan perilaku atau kepercayaan menuju (norma) kelompok sebagai akibat tekanan kelompok yang real atau di bayangkan. Anda tentu memiliki sifat idealis , atau paling tidak memiliki pendapat yang menurut anda tepat untuk menyelesaikan masalah. Namun ketika ada yang berpendapat lain dengan anda. Kemudian pendapat orang lain tersebut mendapat banyak apresiasi dan dukungan dari anggota lainnya daripada anda. Sehingga mau tidak mau anda harus mengikuti pendapat orang lain tersebut, karena desakan anggota lain yang banyak didukung. Sehingga konformitas terjadi jika ada desakan tekanan dari anggota lain yang mayoritas terhadap yang minoritas dalam satu kelompok. Contoh: dalam pemilihan warna jaket, yang memilih warna biru ada 3 orang dan memilih warna hijau ada 18 orang. Kemudian di musyawarahkan. lalu yang ketiga orang tersebut mengalah.

2) Fasilitas Sosial

Subjek bukan saja diberi tau bahwa perilakunya diawasi, tetapi juga dinilai oleh kelompoknya. Dalam fasilitas sosial, seorang individu yang telah memutuskan untuk bergabung dalam kelompok tertentu. Di-inginkan ataupun tidak di-inginkan oindividu tersebut akan diperhatikan kesehariannya baik di kegiatan di dalam maupun diluar kelompok. Individu yang ada dalam kelompok juga dapat memberi penilaian kepada individu baru tersebut, berdasarkan nilai-nilai yang ada dalam kelompok tersebut. Contoh: seorang mahasiswa yang berkecimpung dalam kegiatan UKM Pers. Ketika ia berada di kampus, anggota yang lain memperhatikan dirinya dalam kelas, beribadah, keseharian, dll.

3) Polarisasi

Kecendrungan orang untuk berkeputusan lebih berani atau lebih takut ketika masuk kelompok atau diluar kelompok dalam menghadapi suatu fenomena. ketika anda berada dalam kelompok yang anda telah mengenali karakteristik anggotanya dan mereka juga telah mengenal anda secara dekat. Anda mungkin akan lebih percaya diri dalam mengemukakan pendapat, beretorika, berkarya, dan lainnya di kelompok. Lain halnya ketika anda di kelompok lain seperti di kelas. Kelas tersebut memang dikenal sebagai kelas yang terdiri dari individu yang jago berargumen. Sehingga anda kurang percaya diri, karena selain orang yang mendukung anda sedikit. Anda juga tidak percaya diri terhadap kemampuan anda. Contoh: Achmad adalah mahasiswa yang mengikuti suatu organisasi. Di organisasi tersebut ia telah berkecimpung disana selama 2 tahun. Kini ia diangkat sebagai anggota senior. Di organisasi ia dikenal sebagai orang yang memiliki ide revolusioner. Sehingga bila berbicara di hadapan anggota ia tampil dengan sangat bijaksana, dan menjadi singa panggung. Hal tersebut sangat berbeda ketika ia berada di kelas. Ia menjadi anak yang pendiam dan penurut.

Contoh Sistem Komunikasi Kelompok

Kasus aksi protes pada hari Selasa tanggal 24 Juni 2014, sekelompok massa mengungkapkan kekecewaanya terhadap acara YKS (Yuk Keep Smile) yang disiarkan secara langsung pada 20 Juni 2014 yang dinilai telah melecehkan sosok Benyamin Sueb dalam sebuah adegan sebelum Cesar dihipnotis. Sekelompok massa tersebut dapat dikatakan sebuah kelompok yang besar. Sebuah kelompok besar tersebut menurut (Pusponegoro, 2014) terdiri dari kelompokBens Radio, Yayasan Benyamin Sueb, Benyamin Sueb Fans Club, pecinta Benyamin Sueb, organisasi kemasyarakatan Betawi, seniman dan budayawan Betawi, dan masyarakat Betawi secara luas.

Kelompok-kelompok tersebut melakukan aksi di depan Kantor Trans TV yaitu untuk melindungi seseorang yang bagi mereka berharga yaitu Benyamin Sueb. Mereka memiliki ikatan yang kuat karena mereka sama-sama menyukai dan melindungi seseorang yang sama. Kelompok-kelompok massa maupun masyarakat ini berpengaruh untuk memberikan atau membagai nilai-nilai maupun norma yang memperlihatkan bahwa kasus tersebut tidak baik. Sehingga mempersuasi masyarakat lain di luar masyarakat betawi untuk menjadi kelompok yang menentang tayangan YKS. Pengaruhnya memberikan perubahan perilaku bagi program-program yang menayangkan tayangan yang tercela. Kelompok-kelompok ini merupakan bentuk kelompok deskriptif yang berperan penyadarkan pembuat program agar merubah perilaku atau konsep tayangan yang mendidik.

Sekian artikel Universitas Jurnalistik tentang Pengertian Komunikasi Kelompok (Psikologi Kelompok) Menurut Para Ahli. Semoga bermanfaat.

Universitas Jurnalistik
Universitas Jurnalistik Media belajar ilmu jurnalistik terlengkap yang berisi kumpulan artikel dan tips jurnalistik terbaru.

Posting Komentar untuk "Teori Komunikasi Kelompok (Psikologi Kelompok) Menurut Para Ahli"

Berlangganan